Diobok-obok Demokrat Diobok-obok, Ada KLB Sumut AHY Jadi Mabok, “Pak’De Happy-happy aja!”

  • Bagikan

BERBAGAI media nasional banyak menggunakan istilah ‘Jurus Mabuk’ saat memberitakan tentang gerakan AHY dalam menyikapi hasil Kongres Luar Biasa (KLB) Partai Demokrat di Deli Serdang-Sumut.

Disebut ‘jurus mabuk’, karena mungkin AHY terlalu gegabah yang langsung menuduh orang-orang Jokowi, khususnya orang-orang di dalam istana yang katanya menjadi otak dibalik kisruhnya Si Partai Mercy.

Karena faktanya, melalui pernyataan yang disampaikan Mahfud MD, Jokowi mengaku tidak tahu menau mengenai KLB Demokrat di Sumut. Jangan kegiatannya, keberangkatan Moeldoko ke Sumut saja Pa’De ‘nda tau tuh’.

Seperti lirik lagu ciptaan almarhum Papa T Bob yang dinyakikan Joshua Suherman, faktanya juga kini Demokrat memang telah diobok-obok oleh Moeldoko. Hal inilah mungkin yang membuat AHY jadi mabok, karena langsung menuduh orang-orang istana dibalik otak gerakan politik cemerlang ini.

Sesumbar itu-kah sekelas ketua umum partai…?

Bahkan saking sudah maboknya, AHY sampai berhalusinasi, kata Wakil Ketua Umum Partai NasDem, Ahmad M Ali. Ada benernya juga kata Bang M Ali, yaitu dimana saat ini partai koalisi Jokowi sudah 80%. Sehingga Pak Jokowi sudah tidak punya kepentingan untuk mengambil alih Demokrat.

Namun terlepas dari siapa yang benar dan siapa yang salah, siapa yang jujur dan siapa yang berbohong, jurus mabuk AHY yang menuding pihak istana ini merupakan ‘Kesalahan Berpikir’ seperti yang dijelaskan di dalam bukunya Jalaludin Rakhmat yang berjudul ‘Rekayasa Sosial ; Reformasi, Revolusi atau Manusia Besar’.

Dalam kasus angin ribut Partai Demokrat ini, jurus mabok AHY adalah ‘kesalahan berpikir’ model teori Circular Reasoning = argumen berputar. Yakni dimana AHY menggunakan kesimpulan untuk mendukung asumsinya sendiri, yang kemudian menujuk kepada kesimpulan semula.

Untuk lebih jelasnya, Jalaluddin Rakhmat mencontohkan teori kesalahan berpikir ini dengan mengajukan contoh dalam dialog berikut :

Mahasiswa : apabila organisasi dikembangkan dengan baik, maka program transmigrasi akan berjalan lancar.

Dosen : apa bukti organisasi itu dikembangkan dengan baik?

Mahasiswa : kalau programnya lancar

Dosen : apa arti program lancar?

Mahasiswa : Kalau pengembangan organisasinya baik

Dan jika diasumsikan dengan tuduhan AHY kepada istana mungkin seperti berikut :

AHY : KLB Demokrat Sumut adalah hasil kerjaan orang-orang istana.

Istana : Apa bukti jika orang-orang istana terlibat di dalam merencanakan KLB Demokrat Sumut?

AHY : Karena yang menjadi salah satu otak KLB Demokrat Sumut adalah Moeldoko.

Istana : Memang siapa itu Moeldoko?

AHY : Karena Moledoko adalah orang istana (orang pemerintahan Jokowi).

So, dari teori Circular Reasoning ini,  maka jurus mabok AHY bisa dikatakan benar-benar kesalahan berpikir yang fatal. Tanpa mengumpulkan bukti-bukti objektif terlebih dahulu, AHY sudah keburu ngebet ngomong di media masa, jika pihak istana yang menjadi otak dibalik KLB Demokrat Sumut.

Seakan AHY terdzolimi. Padahal sebenarnya hanya sedang mencari-cari alasan untuk membenarkan asumsinya sendiri tentang friksi yang sedang terjadi di Partai Demokrat.

Karena Jokowi sendiri tidak pernah tahu menau bakal ada KLB Demokrat Sumut. Moeldoko juga tidak pernah bilang-bilang ke Jokowi kalau ia mau terbang ke Sumut untuk hadir di KLB Demokrat Sumut.***

Sumber :

Tempo : https://www.kompas.tv/article/154516/reaksi-jokowi-saat-tahu-moeldoko-kudeta-ahy-di-demokrat-mahfud-md-kaget-tapi-happy-happy-saja-tuh?page=3

Kompas : https://nasional.kompas.com/read/2021/03/11/17074371/moeldoko-tak-hadiri-konferensi-pers-partai-demokrat-kubu-kontra-ahy-yang

Viva : https://www.wartaekonomi.co.id/read325729/ahy-sebut-ada-tangan-istana-untuk-kudeta-demokrat-nasdem-kalau-mau-koalisi-nggak-usah-begitulah

Penulis: Ade Kosasih, SEEditor: ADK
  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *