Kaget Harga Sewa Hotel Fantastis, Penegak Hukum Diminta Tetap Selidiki ‘Cashback Fee’

  • Bagikan

KARAWANG – Ketua BPC Perhimpunan Hotel dan Restauran Indonesia (PHRI) Kabupaten Karawang, Gabriel Alexander mengaku kaget dan terkejut, saat mengetahui pemaparan Plt Kadinkes Karawang, dr. Nanik mengenai harga hotel di Karawang yang nilainya fantastis untuk dijadikan tempat isolasi pasien covid-19.

Sebelumnya, Rapat Dengar Pendapat (RDP) bersama Komisi IV DPRD Karawang dalam menyikapi ‘kegaduhan’ dugaan ‘cashback fee’ sewa hotel digelar pada Selasa (23/3/2021) kemarin.

Di dalam RDP tersebut, dr. Nanik membantah adanya cashback fee sewa hotel. Melainkan hanya ada ‘kelebihan bayar’ sewa hotel Rp 50 juta yang sudah dikembalikan ke kas daerah melalui BPBD.

dr. Nanik juga membeberkan semua harga sewa hotel untuk tempat isolasi pasien covid-19. Sehingga pada akhirnya disimpulkan jika dari 8 hotel dan 6 yang ditanggung oleh pemda (APBD, red), terhitung Januari-Pebruari 2021 masih memiliki utang yang besarnya mencapai Rp 10,7 miliar lebih (belum termasuk honor tenaga kesehatan).

Setelah mengetahui pernyataan Plt Kadinkes ini, Gabriel Alexander meminta agar Aparat Penegak Hukum (APK) tetap melanjutkan proses penyelidikannya. Karena dugaan cashback fee sewa hotel ini bisa benar adanya, jika melihat biaya sewa hotel yang fantastis.

“Saya juga kaget, masa harga hotel sekelas Karawang Indah dan Grand Pangestu bisa mencapai Rp 650 hingga Rp 700 ribu. Mengetahui pernyataan Plt Kadinkes ini saja saya yakin gak bakal ada orang yang percaya. Karena kita tahu betul semua harga sewa hotel di Karawang,” tutur Gabriel Alexander, Rabu(24/3/2021).

Dari data awal ini saja, sambung Gabriel, sebenarnya penegak hukum baik Polres ataupun Kejaksaan sudah bisa mulai melakukan penyelidikan dengan cara membandingkan data sewa hotel dengan harga booking hotel di Karawang melalui aplikasi Traveloka ataupun aplikasi sewa kamar hotel lainnya.

“Kita tahu banget kok harga sewa hotel bintang lima sampai harga hotel kelas melati di Karawang. Pantes saja harga sewa hotel untuk tempat isolasi covid ini sampai membengkak,” katanya, dengan nada curiga.

Kalau berbicara dugaan, sambung Gabriel, sebenarnya banyak celah korupsi yang bisa dilakukan oknum pejabat yang mengurus biaya sewa hotel untuk tempat isolasi pasien covid-19 ini.

Bisa jadi sewa hotel yang di-booking sebenarnya misal 100 hotel, tetapi yang terpakai hanya 50 hotel. Sehingga terjadilah ‘kelebihan bayar’ sewa hotel yang bisa ‘dimainkan’ lewat SPJ fiktif.

“Tapi kalau pembuktian seperti ini akan lemah. Tinggal kongkalikong dengan pihak hotel dengan bukti kwitansi pembayaran. Tapi nanti tinggal di cek di pembayaran pajaknya, apakah 100% atau tidak,” terangnya.

Oleh karenanya, pihak penegak hukum harus segera membandingkan antara biaya sewa hotel yang sudah dilakukan (disewa) dengan harga sewa hotel awal. Karena membacara pernyataan dr. Nanik yang menyatakan harga sewa Hotel Karawang Indah dan Grand Pangestu yang mencapai Rp 650 hingga Rp 700 ribu, maka sebenarnya semua publik Karawang sudah mengetahui jika biaya sewa kedua hotel tersebut hanya setengahnya antara Rp 350 hingga Rp 400 ribu.

“Kemudian pertanyaanya, kenapa sewa hotel juga tidak memesan lewat aplikasi atau melalui agensi yang harganya jauh lebih murah. Kenapa mereka (oknum pejabat) mengambil harga yang paling mahal?. Dalihnya apa coba kalai begitu,” tanya Gabriel.

Disinggung mengenai rencana Pemkab Karawang yang tidak akan menyewa hotel lagi untuk tempat isolasi pasien covid-19 terhitung April 2021, melainkan akan membuat pos terpadu di setiap kecamatan atau desa, Gabriel mengaku akan mendukung rencana perubahan tempat isolasi pasien covid-19 tersebut. Karena memang sistem isolasi dengan cara sewa hotel terlalu pemborosan untuk APBD Karawang.

Namun demikian Gabriel menyindir, jangan sampai perubahan kebijakan ini muncul lantaran adanya masalah dugaan cashback fee hotel yang membuat gerah para oknum pejabat maupun oknum anggota DPRD Karawang.

“Kalau dibilang mendukung sih saya mendukung saja. Justru karena sewa hotel inilah yang membuat pemborosan anggaran. Ya, mending begitu, dari pada anggaran membengkak terus buat sewa hotel sampai masih punya utang 10 miliar lebih,” tandasnya.

Sementara, berdasarkan penelusuran data redaksi Bukanberita.com melalui aplikasi Traveloka, harga sewa hotel (menginap hotel) paling mahal di Karawang adalah di hotel-hotel bintang lima seperti Resinda Hotel, yaitu dengan harga sewa standar jenis kamar Signature Deluxe Twin Dua Single Bed yang mencapai Rp 800 ribu/malam.

Kemudian, SwissBellin Hotel dengan Superior Twin Room Only (1 ranjang twin) Rp 438 ribu, Superior Twin (Dua ranjang twin) Rp 588 ribu, serta Deluxe Room Only (1 doubel bed) Rp 488 ribu.

Untuk di Hotel Grand Citra, harga Superior King Room Only (1 king bed) saja hanya Rp 428.450 (dua orang kapasitas), Superior King Rp 494.665 (tiga orang kapasitas).

Lalu benarkah harga sewa kamar hotel di Karawang Indah dan Grand Pangestu mencapai Rp 650 hingga Rp 700 ribu/malam?, seperti yang dikatakan Plt Kadinkes Karawang, dr. Nanik.***

Penulis: Ade Kosasih, SEEditor: ADK
  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *