Marhaban ya Romadhon, Beribadah di Tengah Wabah, Pergi ke Masjid atau Tetap di Rumah

  • Bagikan
Bupati Karawang,Hj. Cellica Nurrachadiana (instagram @celllicanurrachadiana).

KARAWANG – Marhaban ya Romadhon, bulan suci Ramadhan 1442 H yang akan bertepatan pada 13 April 2021 tinggal menghitung hari.

Namun tentu suasana beribadah puasa tahun ini akan berbeda dengan puasa-puasa sebelumnya. Yaitu dimana wabah pandemi covid-19 akan sedikit mengurangi tingkat kekhidmatan ibadah puasa tahun ini.

Secara resmi, pemerintah Indonesia tidak akan melarang aktivitas shalat berjamaah tarawih di masjid bagi setiap provinsi/kabupaten/kota atau wilayah yang masih masuk kategori aman dari ancaman pandemi covid-19. Kendati demikian, ptotokol kesehatan yang ketat hingga pembatasan jumlah jamaah di dalam masjid tetap harus dilakukan.

Termasuk kebijakan dan himbauan yang akan dikeluarkan Pemkab Karawang, pemda tidak akan melarang aktivitas shalat berjamaah tarawih di masjid.

Hal ini tercermin dalam rapat koordinasi Forum Komunikasi Pimpinan Daerah (Forkopimda) yang digelar di Aula Lantai 3 Gedung Singaperbangsa Karawang, Jumat (9/4/2021) pagi. Rapat ini dipimpin langsung oleh Bupati Karawang, dr. Cellica Nurrachadiana didampingi Wakil Bupati H. Aep Syaepuloh.

Namun sekali lagi perlu ditegaskan, jika penerapan prokes yang ketat dan membatasi jamaah di dalam masjid tetap harus dilakukan.

Terlebih, untuk yang kelima kalinya terhitung 6 April hingga 19 April 2021, Pemkab Karawang telah memperpanjang Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) skala mikro.

Oleh karenanya, kegiatan shalat berjamaah tarawih di masjid pun tentu harus dibatasi jumlah jamaahnya.

“Meskipun tidak ada pelarangan melakukan kegiatan keagamaan di masjid, kami mengimbau agar masyarakat juga tetap mematuhi protokol kesehatan. Mari kita jaga diri dan keluarga masing-masing, agar kita dapat menjalankan ibadah di bulan suci ramadhan dengan tenang,” harap Bupati Cellica, saat Rakor Forkopimda untuk persiapan jelang ramadhan 1442 H.

Serba ‘galau’ memang, jika harus melakukan kegiatan shalat tarawih berjamaah di masjid di tengah situasi wabah pandemi covid-19 yang masih berlangsung. Di satu sisi, kegembiraan menyambut bulan suci ramadhan dengan cara mengisinya oleh berbagai kegiatan ibadah berjamaah merupakan suatu keharusan bagi seorang muslim.

Namun di sisi lain, pandemi covid-19 masih menjadi ancaman masyarakat muslim di dunia. Sehingga supaya terhindar dari bahaya covid-19, masyarakat tetap dihimbau agar selalu melakukan social distancing dan physical distancing dengan lebih banyak melakukan aktivitas di rumah.

Lalu, bagaimanakah agama islam mengajarkan cara menghadapi situasi seperti ini?

Diriwayatkan dalam Hadis Riwayat Bukhari, Rasulullah Nabi Muhammad SAW juga pernah memperingatkan umatnya untuk tidak dekat dengan wilayah yang sedang terkena wabah. Dan sebaliknya, jika berada di dalam tempat yang terkena wabah dilarang untuk keluar.

“Jika kamu mendengar wabah di suatu wilayah, maka janganlah kalian memasukinya. Tapi jika terjadi wabah di tempat kamu berada, maka jangan tinggalkan tempat itu.” (HR Bukhari)

Isolasi pencegahan suatu wabah seperti pandemi covid-19 ternyata pernah terjadi di zaman Rasulullah SAW. Isolasi terhadap orang yang sedang menderita penyakit menular pernah dianjurkan Rasulullah SAW.

Di zaman Rasululullah SAW pernah terjadi wabah kusta yang menular dan mematikan sebelum diketahui obatnya. Kala itu, Rasulullah SAW memerintahkan untuk tidak dekat-dekat atau melihat orang yang mengalami kusta atau lepra.

Dalam sebuah hadist, Rasullah Shallallahu’alaihi Wasallam bersabda yang artinya : “Jangan kamu terus menerus melihat orang yang menghidap penyakit kusta.” (HR Bukhari)

Dalam buku berjudul ‘Rahasia Sehat Ala Rasulullah SAW : Belajar Hidup Melalui Hadith-hadith Nabi’ oleh Nabil Thawil, di zaman Rasulullah SAW jikalau ada sebuah daerah atau komunitas terjangkit penyakit Tha’un, Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam memerintahkan untuk mengisolasi atau mengkarantina para penderitanya di tempat isolasi khusus, jauh dari pemukiman penduduk.(dilansir dari detik.com)

Tha’un sebagaimana disabdakan Rasulullah saw adalah wabah penyakit menular yang mematikan, penyebabnya berasal dari bakteri Pasterella Pestis yang menyerang tubuh manusia.

Jika umat muslim menghadapi hal ini, dalam sebuah hadits disebutkan janji surga dan pahala yang besar bagi siapa saja yang bersabar ketika menghadapi wabah penyakit.

Artinya: “Kematian karena wabah adalah surga bagi tiap muslim (yang meninggal karenanya). (HR Bukhari)

Pada April 2020 lalu, Cendikiawan muslim Quraish Shihab mengimbau umat islam untuk mengikuti aturan pemerintah terkait pencegahan penyebaran virus corona Covid-19 di Indonesia. Salah satunya dengan menahan diri untuk tidak beribadah di masjid.

Quraish mencontohkan bahwa Nabi Muhammad SAW saja pernah melakukan ibadah Salat Tarawih hanya tiga malam pertama berturut-turut di masjid, sementara 27 hari lainnya dilakukan di rumah.

Selain Nabi Muhammad SAW, Salat Tarawih di rumah juga pernah dilakukan Saidina Abu Bakar dua tahun setelah nabi wafat saat beliau menjadi kalifah.

“Nabi hanya melakukannya tiga malam berturut-turut, kemudian setelah itu beliau melaksanakannya di rumah,” terang Quraish Shihab, saat virtual press conference di Kantor BNPB Jakarta.

Maka dari itu, kata Quraish, tidak ada masalah jika umat muslim tidak ke Masjid di tengah wabah penyakit seperti pandemi corona saat ini, karena sudah pernah dicontohkan oleh Nabi Muhammad SAW.

“Bahkan kita bisa berkata bahwa kita salat di rumah justru meneladani Rasulullah SAW yang shalat di rumah,” ucapnya.

Kemudian soal tadarus, menurut Quraish tadarus bukanlah sekadar membaca Al-quran, melainkan membaca dan mempelajarinya, di saat wabah seperti ini adalah kesempatan yang baik untuk tadarus di rumah dengan keluarga.

“Tadarus itu interaksi antara dua orang untuk membaca Al Quran dan mempelajarinya. Sekarang ini itu kesempatan yang luar biasa melaksanakan tadarus. Kesempatan untuk mengajar anak-anak kita. Saling berdiskusi dengan orang-orang di rumah,” tuturnya.

Quraish pun menekankan bahwa ibadah bukan hanya bersifat ritual. Melainkan memiliki banyak bentuk seperti amal sholeh kebaikan manusia.

“Ibadah itu banyak. Dalam bahasa Al-Quran itu amal soleh. Semua amal kegiatan yang positif. Jadi kita bisa beribadah di rumah. Saya menganjurkan mungkin selama ini ada gudang yang tidak kita lihat di sana bertumpuk barang-barang yang tidak digunakan, di lemari kita juga banyak baju-baju karena sibuk kita tidak melihatnya dan tidak dipakai. Pilihlah itu dan disedekahkan kepada orang lain. Itu ibadah yang luar biasa,” kata Quraish Shihab.***

Penulis: Ade Kosaih, SEEditor: ADK
  • Bagikan
Exit mobile version