Lagi, PT. Nestle Indonesia Gelontorkan 2 Miliar CSR untuk Daur Ulang Sampah

  • Bagikan
KOMPAK - Manajemen PT. Nestle Indonesia bersama pejabat pemkab melakukan salam tiga jari yang menjadi ciri khas salam TPS3R. Bupati dan Kepala DLHK Karawang jua memantau produk ekonomis TPS3R dari sampah yang sudah didaur ulang.

KARAWANG – Untuk kali ketiga, PT. Nestle Indonesia kembali menggelontorkan anggaran Corporate Social Responsibility (CSR) Rp 2 miliar miliar untuk membantu Kabupaten Karawang di dalam mendaur ulang sampah menjadi produk ekonomis.

Melalui program Tempat Pembuangan Sampah Reuse, Reduce dan Recycle (TPS3R), bantuan CSR ini akan diberikan kepada 10 unit TPS3R yang tersebar di Kabupaten Karawang.

Kepala Dinas Lingkungan Hidup dan Kebersihan (DLHK) Karawang, Wawan Setiawan mengatakan, untuk meminimalisir overload sampah di TPA Jalupang, berbagai upaya daur ulang sampah terus dilakukan, diantaranya melalui program Bank Sampah dan TPS3R.

Dijelaskannya, setiap sampah yang akan dibuang ke TPA Jalupang akan dipilah terlebih dahulu untuk memisahkan sampah yang memiliki nilai ekonomis. Daur ulang sampah melalui TPS3R ini sendiri dikelola oleh Kelompok Swadaya Masyarakat (KSM), serta dibina dan dipantau langsung oleh DLHK.

“Berdasarkan PP Nomor 18 Tahun 2016, sampah merupakan urusan wajib pemda. Tetapi karena pemda tidak mungkin mampu mengurusnya sendiri, makanya kita menggandeng pihak ketiga. Sehingga akhirnya ada tiga unsur yang mengurusi persampahan, yaitu pemda, perusahan dan masyarakat (KSM),” tutur Wawan Setiawan, Senin (12/4/2021).

Menurut Wawan, selama ini CSR perusahaan masih terfokus kepada bidang pendidikan dan kesehatan. Sehingga masih di bawah 10% CSR perusahaan yang digelontorkan untuk mengurusi permasalahan sampah.

Oleh karenanya, PT. Nestle Indonesia secara bertahap meningkatkan CSR-nya untuk menangani persoalan sampah. Dan anggaran CSR PT. Nestle Indonesia untuk penanganan sampah kali merupakan program kali ketiga.

“Pada 2019 anggaran CSR PT. Neslte untuk sampah ini sebesar Rp 800 juta, 2020 Rp 1,5 miliar dan sekarang 2021 Rp 2 miliar,” beber Wawan.

“CSR ini bentuknya dalam manajemen. Yaitu dukungan sarana dan prasarana untuk mengelola persampahan melalui TPS3R,” timpalnya.

Dua tahun sebelumnya, kata Wawan, MoU CSR PT. Nestle Indonesia ini hanya dilakukan dengan KSM terkait. Kemudian, karena nilai CSR-nya terus bertambah, akhirnya dilakukan MoU langsung dengan pemkab melalui DLHK.

“Anggaran CSR langsung diberikan kepada KSM. Tugas pemda dan DLHK hanya membimbing dan melakukan pengawasan saja. Nanti dilihat kebutuhan real-nya seperti apa untuk pengelolaan (daur ulang) sampah melalui TPS3R ini,” paparnya.

Melalui TPS3R ini, masih dijelaskan Wawan, jelas volume sampah yang akan dibuang ke TPA Jalupang akan berkurang. Karena sebagian sampah yang sudah dipilah telah dijadikan produk bernilai ekonomis.

“Hasil produknya beragam. Ada pupuk kompos, partisi, palet dan lain-lain. Tergantung dari jenis sampah yang diolah,” tuturnya.

Sementara, usai melakukan penandatanganan MoU di TPS3R Desa Sukaluyu Kecamatan Telukjambe Timur, Bupati Karawang Cellica Nurrachadiana menjelaskan, program TPS3R ini mampu ‎mengelola 50 ton sampah dalam satu hari.

Sehingga 10 TPS3R di Karawang mampu mengelola 500 ton sampah per harinya. Ia optimis jika pengelolaan sampah melalui TPS3R ini bisa dikelola dengan baik. Sehingga permasalahan sampah dapat teratasi.

Bupati Cellica juga berencana membuat peraturan bagi pengembang perumahan, agar memiliki TPS3R sendiri. Sehingga sampah rumah tangga dapat dikelola dan bisa dimanfaatkan kembali oleh masyarakat.

Sampah yang dikelola di TPS3R ini bisa dijadikan pupuk organik. “Saya sangat mendukung program ini. Makanya nanti kita rumuskan agar perumahan, tempat wisata, pasar dan supermarket memiliki TPS3R sendiri,” tandas Bupati.

Penandatanganan MoU PT. Nestle Indonesia dengan Pemkab Karawang melalui program TPS3R ini sndiri dihadiri oleh Kepala Sub Direktorat Barang dan Kemasan Direktorat Pengelolaan Sampah Ditjen PSLB3 Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK), Ujang Solihin Sidik, Head of Sustainability PT Nestle Indonesia, Prawitya Soemadijo dan Koordinator Program LO Citarum Harum, sekaligus Ketua Kelompok Swadaya Masyarakat (KSM) Hendro Wibowo.***

Penulis: Ade Kosasih, SEEditor: ADK
  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *