Dzikir itu Lebih Utama Dari Pada Mematahkan Pedang Berperang di Jalan Allah

  • Bagikan

KARAWANG – Banyak sekali fadilah atau manfaat dzikir kepada Allah SWT, khususnya di kesempatan bulan suci ramadhan ini.

Rasulullah SAW bersabda : jika datang pagi dan sore hari, sementara lisan kamu basah dengan dzikir kepada Allah, dari mulai tasbih, tahmid, takbir, tahlil, solawat, istigfar dan bacaan-bacaan yang lainnnya, maka nanti besok pagi dan sore hari kamu tidak akan memiliki kesalahan sedikitpun di hadapan Allah.

“Dosamu akan diampuni semuanya. Selama lisan kamu basah dengan dzikir kepada Allah,” tutur Ketua PCNU Karawang, KH. Ahmad Ruhyat Hasbi, dalam kesempatan ceramah ‘Ngabuburit Online Bareng Kang Uyan’ di akun facebook pribadinya Ahmad Ruhyat Hasby, yang digelar setiap hari pukul 17.15 WIB.

Dalam kesempatan membahas kitab Mukasyafatul_Qulub karya Imam Al-Ghazali ini, kiyai yang kerap akrab disapa Kang Uyan ini juga menjelaskan, dzikir kepada Allah bisa dilakukan dengan dua cara, zahar maupun syir.

Dzikir juga bisa dilakukan dengan hati kita. Meskipun hati kita diam. Tetapi hati kita selalu bersholawat kepada Baginda Nabi. Hati kita beristighfar kepada Allah.

“Dzikir yang hakiki adalah dzikir yang sesungguhnya. Semua yang kita lakukan, semua yang kita lihat, semua yang kita dengar selalu dihubungkan kepada Allah SWT. Itulah dzikir yang hakiki, dzikir yang sesungguhnya,” terangnya.

Bersabda Rasulullah SAW : Sungguh dzikir kepada Allah yang Maha Luhur dan Maha Mulya, dzikir yang dilakukan pada pagi hari dan sore hari, siang maupun malam, maka lebih utama dari pada mematahkan pedang di jalan Allah.

“Jadi mengingat Allah Azza Wazalla, itu lebih utama dari pada mematahkan pedang berperang di jalan Allah seperti perang melawan harobi (penjajah),” terang Kiyai Uyan.

Dzikir kepada Allah juga lebih baik dari pada memberikan harta sebanyak mungkin (bersedekah). Apalagi ketika sedekahnya riya dan sum’ah, ingin dipandang orang lain, ingin disebut dermawan. Maka lebih baik dzikir mengingat Allah SWT dibarengi dengan hati yang suci.

“Saya ulangi dzikir yang baik adalah dzikir yang bisa menenangkan hati. Alaa bidzikrillahi tathmainul quluub. Ingatlah bahwa dengan mengingat Allah (berdzikir), maka akan menentramkan hati kita,” terang Kiyai Uyan.

Bagaimana caranya?. Hati kita tidak boleh sedikitpun mengingat sesuatu, walaupun kita sedang berada mengurusi sesuatu. Tetapi hati kita tetap ingat kepada Allah SWT,  yang merupakan hakikat dari pada sesuatu itu.

Karena hakikatnya ‘Laa ilaaha illallah, laamaujuda bilhaqqi fi’maujudi illallah. Tidak ada yang ada, sebelum kata itu ada, kecuali dzat Yang Maha Ada, Allah SWT.

“Maka jika hati kita ingin tenang, ingin damai, ingin tentram, banyaklah mengingat Allah. Tentu mengingat Allah yang dibarengi dengan hati kita,” terang Kiyai Uyan.***

Penulis: Ade Kosasih, SEEditor: ADK
  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *