Nelayan Dilibatkan Pembersihan Oil Spill, Tapi Tidak Difasilitasi APD

  • Bagikan
Setelah terlibat pembersihan oil spill, pakaian para nelayan terlihat kotor karena tumpahan minyak Pertamina yang sebenarnya dapat menganggu kesehatan.

KARAWANG – Sikap kekecewaan atas lambannya penanganan (pembersihan) oil spill atas kebocoran pipa Pertamian di laut Karawang bukan hanya disampaikan oleh Komisi III DPRD Karawang. Melainkan juga disampaikan Serikat Nelayan Nahdatul Ulama (SNNU) Jawa Barat.

Ketua SNNU Jawa Barat, Muslim Hafidz mengatakan, setidaknya ada tiga hal penting yang harus menjadi catatan Kementerian BUMN atas kinerja PHE ONWJ dalam menyikapi persoalan kebocoran pipa Pertamina di laut Karawang ini.

Pertama, PHE ONWJ diduga lalai dalam penanganan persoalan ini. Karena kebocoran pipa Pertamina yang terjadi pada tanggal 15 April 2021 ini baru tersampaikan informasinya kepada nelayan tiga hari kemudian.

Akibatnya, nelayan bukan hanya merugi dari segi ekonomi (mata pencaharian). Tetapi juga merugi dari sisi waktu. “Seharusnya ketika kebocoran terjadi langsung disosialisasikan kepada nelayan, agar nelayan tidak berlayar. Tetapi karena tidak ada informasi, akhirnya nelayan tetap melaut dan malah mengalami kerugian,” tutur Muslim Hafidz.

Kedua, berdasarkan pengakuan dari manajemen PHE ONWJ, kebocoran pipa Pertamina terjadi pada pipa yang kondisinya sudah tua. Sehingga pertanyaanya, kenapa tidak sejak kecoran yang pertama (2019) dilakukan peremajaan pipa Pertamina.

Tetapi kondisinya dibiarkan begitu saja, sehingga mengakibatkan kebocoran pipa yang berulang yang jelas sangat merugikan mata pencaharian nelayan, serta mengancam ekosistem dan biota laut Karawang kembali.

“Implikasinya atas kebocoran pipa Pertamina yang berulang ini lagi-lagi merugikan mata pencaharian nelayan, mengancam kesehatan masyarakat, serta merusak kembali ekosistem dan biota laut,” kata Muslim Hafidz.

Aktivitas nelayan yang terlibat dalam pembersihan oil spill. Tetapi tidak difasilitasi APD oleh pihak PHE ONWJ.

Catatan ketiga yang tidak jauh lebih penting, sambung Muslim, masyarakat (nelayan) dilibatkan oleh PHE ONWJ dalam proses pembersihan oil spill. Tetapi mereka tidak diberikan atau tidak difasilitasi Alat Pelindung Diri (APD) untuk kegiatan pembersihan oil spill.

“Nelayan dipekerjakan oleh PHE ONWJ dalam pembersihan oil spill, tapi tanpa difasilitasi APD. Apa ini tidak dikhawatirkan akan menggangu kesehatan para nelayan?,” tandas Muslim Hafidz, seraya bertanya.

Sebelumnya diberitakan, Bupati Karawang Cellica Nurrachadiana telah meminta kepada PHE ONWJ, agar selama tiga minggu ke depan (terhitung 24 April 2021) tumpahan oil spill atas kebocoran pipa Pertamina ini bisa segera dibersihkan. Bupati Cellica meminta kepada PHE ONWJ untuk melakukan percepatan pembersihan oil spill.

Baca Sebelumnya3 Minggu ke Depan, Bupati Cellica Minta agar Ceceran Minyak Pertamina di Bibir Pantai Sudah Bersih

Sementara, Ketua Komisi III DPRD Karawang, H. Endang Sodikin mengaku kecewa atas kinerja PHE ONWJ yang terkesan lamban dalam penanganan (pembersihan) oil spill. Pasalnya hingga Minggu (25/4/2021), kini tumpahan minyak akibat kebocoran pipa Pertamina tersebut sudah sampai di Pantai Desa Pusakajaya Utara Kecamatan Cilebar.

Sehingga tidak menutup kemungkinan tumpahan minyak Pertamina ini juga akan menyebar ke 9 kecamatan wilayah pesisir Karawang, jika saja penanganannya (pembersihan) tidak segera dilakukan lebih cepat.***

Baca SebelumnyaPenanganan Oil Spill Lamban, Komisi III Kecewa Kinerja PHE ONWJ

Penulis: Ade Kosasih, SEEditor: ADK
  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *