Petani Menjerit, Ratusan Hektar Sawah di Kedungjaya Mulai Alami Kekeringan

  • Bagikan

KARAWANG – Kekeringan lahan pertanian bukan hanya sering terjadi di Kecamatan Batujaya dan Pakisjaya, melainkan juga di Kecamatan Cibuaya.

Kali ini, sekitar 300 hektar lahan pertanian di Dusun Sadariwan Desa Kedungjaya Kecamatan Cibuaya juga mengalami kekurangan pasokan air (kekeringan).

Terhitung 20 hari lebih sejak dimulainya musim rendeng atau musim tanam kedua, para petani di Dusun Sadariwan ini setiap harinya menggunakan mesin pompa untuk mendapatkan pasokan air dari saluran tersier yang sebenarnya juga sudah tidak ada aliran air.

“Jangankan air, lumpur juga kita sedot saking tidak adanya air,” tutur Ocang (35), salah seorang petani Dusun Sadariwan, Jumat (30/4/2021).

Dikatakan Ocang, sebenarnya di jalur tersier Kertamulya-Pedes sedang terjadi pengerukan saluran, yaiu dimana aliran air terlihat berjalan normal.

Namun akibat banyaknya bangunan liar (bangli) di sepanjang jalur irigasi, tepatnya di sepanjang jalur tersier Pejaten sampai kantor Polsek Cibuaya, akhirnya air tidak mengalir ke lahan pertanian di Dusun Sadariwan Desa Kedungjaya.

“Ya biasanya kalau musim rendeng seperti ini petani masih bisa terselamatkan dengan hujan. Tapi berhubung cuacanya seperti ini, akhirnya para petani di sini menjerit. Untung semalam masih diguyur hujan,” katanya.

Atas persoalan ini, sambung Ocang, para petani meminta pemkab melalui dinas terkait agar segera bersikap. Sehingga persoalan kekeringan area pertanian ini segera disikapi dan tidak dibiarkan begitu saja.

“Alhamdulillah kalau area pertanian yang lain masih kebagian air. Cuma ini yang di dusun saya gak kebagian air sama sekali. Para petani sudah pusing dan menjerit harus bagaimana. Kalau setiap hari harus menggunakan mesin pompa untuk mendapatkan air, biaya produksi makin nambah terus,” katanya.

Masih disampaikan Ocang, rencananya hari ini perwakilan para petani juga akan mencoba mengunjungi dan berdiskusi dengan camat setempat. Para petani akan mencoba meminta solusi terlebih dahulu ke pemerintahan setempat.

“Persoalan seperti ini gak bisa dibiarkan, kasihan para petani. Kami meminta Dinas Pertanian segera ambil sikap untuk ikut memberikan solusi. Jangan sampai ratusan sawah ini gagal panen atau hasil produksinya turun. Karena air yang kami pompa dari saluran tersier bentuknya sudah lumpur. Artinya pasokan air memang sudah tidak ada,” tandasnya.***

Penulis: Ade Kosasih, SEEditor: ADK
  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *