Miris Fenomena Anak Mengemis, Orangtua yang Tega atau Pemerintah yang Apatis

  • Bagikan

POTRET buram tentang kemiskinan atau susahnya ‘mencari makan’ di Kota Pangkal Perjuangan kembali tergambar. Kali ini bukan tentang rumah si miskin yang tidak layak huni ataupun susahnya seorang pemuda/pemudi yang sedang mencari pekerjaan di industri. Melainkan fenomena seorang anak mengemis di jalanan yang membuat hati kita miris menyaksikannya.

Bertepatan dengan Hari Lahirnya Pancasila 1 Juni 2021 kemarin, fenomena anak mengemis ini diketahui setelah akun facebook ‘Paguyuban Karawang Tandang’ yang diketuai seorang aktivis dan pemerhati pemerintahan Dudung Ridwan mengunggah foto seorang anak perempuan yang sedang mengemis.

Meskipun tidak ditulis identitas lengkap dan lokasi tempat si anak sedang mengemis, tetapi foto fenomena anak mengemis ini membuat beberapa netizen gatal untuk ikut mengomentari.

Yang lebih menyayat hati, semua bagian kulit tubuh dan rambut si anak perempuan yang mengemis ini dicat atau dipilok layaknya peminta-minta yang sering disebut sebagai ‘Manusia Silver’.

“Hari ini Selasa , 01 Juni 2021
Bertepatan dengan Hari Lahir Pancasila
Pukul 00.01 WIB
Kami hanya berharap
ANAK INI PUNYA IMPIAN
MERAIH CITA CITA DIMASA DEPAN
ANAK INI BUTUH PERLINDUNGAN
ANAK INI BUTUH KETEGASAN
” KEMANUSIAN DAN KEADILAN SOSIAL”
BERIKAN HAK DIA
TUNAIKAN HAKNYA
BERIKAN PERLINDUNGAN UNTUKNYA
Viralkan status ini
Kita lihat apa yang akan dilakukan
Oleh para pemangku kebijakan”

Demikian ditulis akun facebook Paguyubang Karawang Tandang, sambil memposting foto si anak.

Beragam komentar/tanggapan di status Paguyuban Karawang Tandang.

Melihat postingan tentang kondisi ‘Sosial dan Kemanusiaan’, beberapa netizen facebook ikut berkomentar. Salah satunya mengundang komentar dari mantan Wakil Bupati Karawang, H. Ahmad Zamakhsyari (Kang Jimmy).

“Bawa ka Imah Uing kang
Insya Allah di Aku Anak ku Uing (bawa ke rumah saya kang. Insha Allah diakui atau diangkat anak sama saya)”, tulis Kang Jimmy, saat mengomentari foto anak perempuan mengemis yang diperkirakan baru berusia 7 tahun tersebut.

“Kang Jimmy ,, lokasi Cikampek, sampe anak baru umur beberapa bulan tos aya nu di semprot silver di gagandong ku lanceukna menta-menta miris pisan ningalina, eta nu di photo oge saurna ti enjing dugi jam 2 siang can makan, hawatos kalaparan pisan, muringis wae di taros oge…🙏🙏 pokona di sekitaran Cikampek sagala aya potret nu jadi PR keur Dinsos…,” balas netizen Asep Ceuhay.

Sementara berdasarkan catatan Redaksi BukanBerita.com, fenomena miris anak mengemis di Kota Lumbung Padi ini biasanya sering terjadi di beberapa lokasi. Yaitu dari mulai Lapangan Karangpawitan, kawasan GOR Panatayudha, Masjid Agung Karawang, sekitaran Pasar Cikampek dan beberapa lokasi ruang publik lainnya.

Bahkan, kita juga sering menyaksikan fenomena kemiskinan seperti ini di sekitaran lampu merah. Yaitu dari mulai lampu merah RMK, perlintasan rel kereta api jalan Tuparev, bahkan hingga di sekitaran lampu merah yang lokasinya berdekatan dengan kantor DPRD atau kantor Pemkab Karawang.

Fenomena anak mengemis di jalanan seperti ini tentu harus ditanggapi serius oleh Bupati dan Wakil Bupati Karawang, serta beberapa pemangku kebijakan lainnya. Jangan sampai pemerintah bersikap apatis atau ‘cuek bebek’ saat menyaksikan potret buram kemiskinan seperti ini.

Karena sebagian fakta saat dilakukan penertiban oleh Satpol PP Karawang menjelaskan, jika fenomena anak mengemis di jalanan seperti ini terkadang ada ‘unsur kesengajaan’ dari orangtua si anak.

Yaitu dimana orangtua menyuruh anaknya untuk meminta-meminta di ruang publik, sementara si orangtua sampai tega menyaksikan anaknya dari kejauhan disengat panasnya terik matahari hanya untuk mendapatkan 500 perah hingga 2.000 rupiah dari para pengendara yang berhenti di lampu merah ataupun sedang ‘nongkrong’ di ruang publik.

Sejatinya, anak merupakan aset bangsa yang harus mendapatkan pendidikan layak dalam mempersiapkan masa depannya kelak. Minimalnya mereka harus mendapatkan pendidikan Wajib Belajar (Wajar) 9 tahun sampai bangku Sekolah Menengah Pertama (SMP).

Di bawah usia 10 tahun, seorang anak juga seharusnya mendapatkan ‘dunia bermain’ dalam kesehariannya. Hal ini guna mengembangkan kemampuan motorik (gerak), kognitif (daya pikir) hingga mengembangkan kemampuan sosial emosialnya. BUKAN disuruh mengemis-ngemis atau meminta-minta di jalanan oleh orangtuanya.

Kemudian, satu sisi fenomena dan potret kemiskinan seperti ini menjadi tanggungjawab pemerintah di dalam menyelesaikan persoalanya. Yaitu dimana sebagai penegak Perda K3 (Ketertiban, Kebersihan dan Keindahan), seharusnya Satpol PP harus lebih tegas lagi didalam menertiban para peminta-minta di ruang publik seperti ini.

Diamankan/ditertibkan, kemudian dibina atau diberikan pelatihan kerja sampai dengan diberikan modal usaha untuk bisa mencukupi kebutuhan sehari-hari. Agar si orangtua tidak lagi menyuruh anak-anaknya untuk mengemis di jalanan.

Pemkab juga harus lebih masif di dalam menggulirkan program ‘ekonomi kerakyatan’ tanpa syarat yang ribet. Karena fenomena kemiskinan seperti ini sering terjadi karena faktor sulitnya mencari mata pencaharian bagi rakyat kecil.

Di sisi lain, para pengguna jalan ataupun penikmat ruang publik sekali-kali harus bisa memberikan pendidikan kepada si pengemis tentang “tangan di atas lebih baik dari pada tangan di bawah”. Yaitu dengan cara tidak terlalu sering bersedekah kepada peminta-minta di jalanan ataupun di ruang publik.

Jika ingin bersedekah, sebaiknya kita memberikan atau menyalurkannya kepada lembaga sosial resmi. Yaitu seperti yayasan yatim piatu ataupun ke beberapa lembaga sosial lainnya yang dapat dipertanggungjawabkan pengelolaan keuangannya.

Karena jika potret atau fenomena kemiskinan seperti ini terus dibiarkan dan dianggap suatu hal yang lumrah, maka hari ke hari akan semakin banyak para peminta-minta yang mengemis di ruang publik.

Bukan persoalan antara tega dan tidak tega. Tetapi persoalan bagaimana caranya mengajarkan nilai-nilai sosial dan kemasyarakatan untuk menuju bangsa dan masyarakat yang mandiri. Begitulah kira-kira menurut Kang Bubuy (Redaksi BukanBerita.com yang akan selalu hadir sebagai media siber dalam menyuguhkan berita-berita ‘Narasi Opini Konstruktif).***

Penulis: Ade Kosasih, SEEditor: ADK
  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *