Gubuk Biliknya ‘Diendongan’ Kader PDIP, Cerita Mak Uti yang Hanya Ingin Punya KTP Karawang

  • Bagikan

KARAWANG  Diusianya yang sudah tidak produktif lagi untuk bekerja, tinggal hanya seorang diri sebagai janda yang sudah ditinggal meninggal sang suami. Ditambah, ketiga anaknya pun sudah berjauhan terpaut jarak pasca sudah menikah.

Tinggal di sebuah gubuk kecil ukuran 4 x 4 meter yang hanya berdinding bilik. Kesehariannya untuk mengganjal isi perut hanya bisa mengandalkan kuli serabutan seperti mengurus ternak ataupun ‘nandur’ di areal pertanian milik orang lain.

Belum cukup sampai di situ. Jerih payah cucuran keringatnya hasil kuli nandur juga bukan dibayar dengan uang. Melainkan hanya dibayar ‘beberapa butir padi’ yang hanya cukup untuk jatah makan sekali dua kali saja.

Sehingga di hari esok atau lusa, si nenek selalu berharap tetap diberikan kesehatan oleh Tuhan Yang Maha Esa-Allah SWT, agar ia tetap bisa menjadi kuli serabutan untuk mengais rejeki, demi mengganjal isi perutnya dengan sesuap nasi.

Cerita hidup memilukan seperti inilah yang sehari-harinya dialami Mak Uti, seorang janda berusia 75 tahun yang tinggal di Kampung Piparkolot Desa Medalsari Kecamatan Pangkalan Kabupaten Karawang Jawa Barat.

Namun, entah doa apa yang selalu dipanjatkan Mak Uti kepada Tuhan YME-Allah SWT. Tiba-tiba saja gubuk kecil berdinding bilik miliknya didatangi kader PDI Perjuangan Karawang bernama Ayu Asmaranti.

Bahkan, Ayu Asmaranti tidak hanya sekedar berkunjung sesaat ke gubuk Mak Uti. Melainkan juga ‘ngendong’ atau menginap semalam untuk mengetahui lebih jauh keseharian cerita hidup Mak Uti di masa tuanya.

Alhamdulillah, meskipun hanya sehari, setidaknya saat itu isi perut Mak Uti tidak hanya sekedar mengenal nasi lagi nasi lagi. Karena sejak berangkat dari rumah, kader PDI Perjuangan Karawang ini sudah membersiapkan beberapa sembako untuk dimasak di dapur butut Mak Uti dengan kompor tungkunya yang terbuat dari tanah.

Lebih dari itu, ada kebahagiaan lain yang dirasakan Mak Uti. Meskipun hanya tidur beralaskan tikar, tetapi Mak Uti merasakan kebahagiaan baru. Yaitu dimana Si Emak serasa kembali tinggal satu rumah bersama anak kandungnya.

Semalam menginap di rumah Mak Uti, serasa kembali bisa belajar tentang kehidupan baru di tengah ramainya kemewahan hiruk pikuk masyarakat kota.

Ayu Asmaranti bersama Mak Uti dan Mak Oni saat bersantai dan bersantap makanan.

Cerita ke cerita, curhatan ke curhatan yang menghiasi suasana obrolan sore hari hingga obrolan menjelang tidur malam, keinginan dan harapan Mak Uti selama ini ternyata tidak serumit apa yang dibayangkan Ayu Asmaranti.

Mak Uti yang sehari-harinya memilki teman dekat tetangganya bernama Mak Oni, ternyata hanya ingin memiliki KTP Karawang, supaya sesekali bisa mendapatkan bantuan dari pemerintah setiap kali ada program bantuan seperti BLT (Bantuan Langsung Tunai) dan lain sebagainya.

Karena sudah 20 tahun tinggal di Medalsari (Karawang), warga  asal Kampung Cikutani Tonjong I Kecamatan Cariu Kabupaten Bogor Jawa Barat ini tak kunjung memiliki identitas resmi sebagai warga Karawang. Karena persoalannya, tidak ada satupun dari anggota keluarganya yang masih hidup untuk mengurus surat perpindahan KTP di kampung halamannya.

Ayu Asmaranti bersama kader PDI Perjuangan yang lain sedang mengurus proses administrasi perpindahan KTP Mah Uti di kantor desa.

Namun Alhamdulillah, setelah gubuk kecil Mak Uti ‘diendongan’ oleh Ayu Asmaranti, beberapa hari kemudian Mak Uti sudah bisa mengurus administrasi pembuatan KTP Karawang.

Ayu Asmaranti yang melakukan komunikasi dengan Sekretaris DPC PDI Perjuangan Kabupaten Bogor, H. Bambang hingga dibantu jajaran kader PDI Perjuangan Kabupaten Bogor sampai tingkat ranting, akhirnya langsung mengurus proses administrasi perpindahan KTP Mak Uti di kantor desa sebelumnya ia tinggal.

Disampaikan Ayu Asmaranti, kegiatan kader PDI Perjuangan menginap di rumah-rumah warga seperti ini merupakan intruksi langsung dari Ketua Umum PDI Perjuangan, Hj. Megawati Soekarno Putri. Yaitu dengan tujuan agar setiap kader PDI Perjuangan di setiap daerah mengetahui secara langsung persoalan masyarakat di bawah.

Setelah melihat kondisi langsung kehidupan Mak Uti, akhirnya Ayu Asmaranti mengambil hipotesa, jika sebenarnya masih banyak kehidupan masyarakat Karawang di bawah seperti Mak Uti yang membutuhkan bantuan dari para kader partai politik.

Karena dipengaruhi latarbelakang pendidikan hingga faktor alamiah seperti usia yang sudah tidak muda lagi, ke depan warga seperti Mak Uti tentu harus mendapatkan perhatian khusus dari pemerintah daerah sampai tingkat pemerintahan desa.

Wajah kebahagiaan Ayu Asmaranti, Mak Uti dan Mak Oni saat berselfi mendokumentasikan diri.

“Semoga apa yang dilakukan para kader PDI Perjuangan seperti ini (menginap di rumah warga) bisa menjadi berkah. Masih banyak warga luar (pendatang) yang sudah ekspansi ke Karawang puluhan tahun tapi belum memiliki KTP. Akhirnya mereka yang sudah pada tua tidak bisa mendapatkan bantuan dari pemerintah karena hanya persoalan KTP,” tutur Ayu Asmaranti.

“Kita sebagai bagian dari warga Negara harus memberikan dorongan kepada pemerintah daerah sampai tingkat pemerintahan desa untuk membantu orang-orang seperti Mak Uti. Karena diusianya yang sudah tidak produktif lagi, tentu membutuhkan banyak bantuan dari program pemerintah,” katanya.

“Insha Allah, ini bukan untuk untuk pertama kali dan terakhir kalinya saya dan para kader PDI Perjuangan Karawang lain menginap di rumah warga seperti Mak Uti. Ke depan kegiatan-kegiatan PDI Perjuangan yang bisa meringankan beban masyarakat seperti ini harus lebih digencarkan lagi,” tutup Ayu Asmaranti, yang masih merupakan Ketua Taruna Merah Putih (TMP) Kabupaten Karawang.***

Penulis: Ade Kosasih, SEEditor: ADK
  • Bagikan
Exit mobile version