Tanggapi Pernyataan Sekda, Kenapa Bukan Pokir yang Direfocusing?

  • Bagikan

KARAWANG – Meskipun sudah diketuk palu dan disahkan di awal tahun, tiba-tiba saja Pemkab Karawang kembali mewacanakan akan melakukan refocusing APBD Tahun Anggaran (TA) 2021, untuk langkah percepatan dan penanggulangan covid-19.

Pertanyaanya, anggaran APBD 2021 manakah yang akan direfocusing?.

Menanggapi wacana refocusing versi Sekda Karawang, H. Acep Jamhuri melalui pernyataanya di salah satu media masa yang menyebutkan bahwa usulan proses lelang akan ditunda, Pemerhati Pemerintahan Karawang, Gabryel Alexander angkat bicara.

Dipertanyakan Gabryel, post anggaran APBD 2021 manakah yang akan direfocusing. Apakah anggara kegiatan seremonial dan sejenisnya, ataukah anggaran untuk pembangunan infrastruktur?.

Menyikapi wacana refocusing usulan Sekda ini, pertama Gabryel menegaskan jika eksekutif dan legislatif harus melihat terlebih dahulu postur APBD saat ini. Yaitu dimana 90% lebih anggaran infrastruktur yang dibiayai APBD Karawang adalah berupa PL/pokir. Yaitu dimana keberadaannya dapat dikonfirmasi ke setiap OPD terkait.

Kedua, sekitar 10% atau kurang berupa paket LPSE yang peruntukannya mendesak. Yaitu untuk pembangunan jalan rusak, saluran irigasi, rumah tidak layak huni, hingga untuk pengerjaan beberapa proyek infrastruktur yang masih mangkrak. Dan kemungkinan besar, jika saja sifatnya tidak urgent, maka bisa jadi LPSE juga sudah dijadikan pokir/PL.

“Kalau anggaran kegiatan-kegiatan seremonial dan sejenisnya yang direfocusing, baru kita setuju. Tapi kalau untuk LPSE yang digelar saat ini batal dilelang karena alasan refocusing, ya nanti dulu. Apalagi mayoritas LPSE bukan bersumber dari APBD, melainkan DAK dan Banprov,” tutur Gabryel Alexander, Sabtu (19/6/2021).

Kembali dipertanyakan Gabryel, kenapa pemkab tidak melakukan refocusing anggaran pokir/PL saja. Melainkan malah akan merefocsing beberapa proyek LPSE yang sifatnya urgent untuk kepentingan publik.

“Kalau mau bapak-bapak kasih contoh dulu refocusing itu pokir/PL. Tapi kalau harus refocusing yang judulnya TB (Tinggal Bayar) alias jauh hari sudah dikerjakan, mungkin bapak sekda bisa cek kembali ada gak paket TB,” kata Gabryel.

“Saran saya pak sekda jangan lempar bola panas dalam penanganan covid-19 ini. Tapi pikirkan secara serius cara penanganan yang tepat. Yaitu mulai dari penggunaan anggaran sampai penindakan disiplin masyarakat untuk lebih tegas dalam menerapkan protokol kesehatan,” timpal Gabryel.

Disindir Gabryel, Covid-19 bukan ajang mencari kesempatan untuk mendappatkan keuntungan pribadi. Jangan sampai ada kesan ‘jagoannya’ kalah di paket lelang yang kompetitif, tetapi tiba-tiba berbicara refocusing anggaran paket lelang.

“Padahal gampang kalau mau pangkas anggaran untuk penanganan covid-19. Kurangilah paket pokir/PL. Baik itu pokir dewan maupun pokir birokrasi lainnya. Karena kalau bicara paket lelang tidak signifikan, maka paket mana coba dihitung yang dibiayai APBD,” kata Gabryel.

Kembali ditegaskan Gabryel, satu hal yang perlu dipikirkan pemkab saat ini tidak hanya sekedar berbicara penanganan covid-19, tetapi mengabaikan pembangunan infrastruktur publik lainnya.

Karena pemkab harus tetap bisa menjawab keluhan masyarakat terhadap infrastruktur yang selalu ramai diperbincangkan setiap harinya. Yaitu dari mulai jalan berlubang, saluran mampet, rumah roboh, bangunan mangkrak dan lain sebagainya.

Disatu sisi, Gabryel juga mengkritik biaya sewa hotel untuk tempat isolasi pasien covid-19 di awal tahun yang sangat tidak jelas penganggarannya. Yaitu dimana biaya sewa hotel tersebut sangat tidak logis, jika dibandingkan dengan biaya sewa hotel pada umumnya.

Apalagi tiba-tiba ada pengakuan cashback (kelebihan bayar) sewa hotel dari Dinas Kesehatan, pasca biaya sewa hotel yang tidak logis tersebut ramai diberitakan media masa.

“Saya cuma ingin bertanya dan mempertegas, post anggaran APBD 2021 yang manakah yang akan direfocusing lagi. Karena yang saya tahu realita paket lelang APBD gak seberapa. Kenapa gak pokir dari eksekutif dan legislatif saja yang direfocusing?. Dewan ada 50 orang dan pokir eksekutif ya tinggal dihitung berapanya. Saya kira refocusing saja pokir 1 miliar, sepertinya itu sudah cukup untuk penanganan covid-19,” tandas Gabryel.***

Penulis: Ade Kosasih, SEEditor: ADK
  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *