Kita Lupa Siapa yang MENCIPTAKAN Corona, Segera Kembali kepada Al-qur’an!

  • Bagikan
Ditengah kesibukannya menangani pasien covid-19, seorang tenaga nakes sedang membaca Al-qur'an. (unggahan foto instagram ustadz @yusufmansurnew).

BERBAGAI upaya sudah dan terus dilakukan Pemkab Karawang untuk melakukan pencegahan bahkan penanggulangan wabah covid-19. Yaitu dari mulai pengadaan obat-obatan dan Alat Pelindung Diri (APD), vaksinasi massal, menutup tempat wisata, terus memberlakukan PPKM Mikro, hingga terakhir merazia Tempat Hiburan Malam (THM), restoran dan cafe yang masih membandel beroperasi di tengah pandemi yang masih berlangsung.

Otak-atik APBD melalui refocusing anggaran untuk biaya pencegahan dan penanggulangan covid-19 pun terus dilakukan. Miliaran duit rakyat yang sejatinya untuk kepentingan pembangunan akhirnya ‘ludes’. Sehingga target Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Karawang 2021-2024 terancam gagal, karena pemkab diprediksi akan bekerja untuk rakyat dengan anggaran yang minim.

Refocusing memang membuat repot dan pusing. Begitulah celoteh para pengamat, aktivis, hingga jurnalis Karawang yang selama ini terus memantau perkembangan wabah covid-19 di Kota Pangkal Perjuangan.

Berbagai upaya melalui ikhtiar duniawi yang menghabiskan miliaran duit rakyat tersebut sampai hari ini terus dilakukan pemkab. Tetapi alhasil, penyebaran covid-19 di Kota Lumbung Padi terus meningkat. Sehingga lagi-lagi Karawang kembali ke zona merah dengan ancaman covid-19 varian delta yang sudah menjangkit 21 warga Karawang.

Tercatat, berdasarkan data Satgas Covid-19 Karawang per Minggu 27 Juni 2021, warga yang terkonfirmasi positif covid-19 mencapai 24.990 orang. Yaitu dengan rincian 898 masih dalam perawatan, 2.254 isolasi mandiri, 20.939 sembuh, serta 899 orang meninggal dunia.

Sekali lagi, berbagai langkah ikhtiar duniawi sudah dan terus dilakukan Pemkab Karawang sampai saat ini. Lantas bagaimana dengan ikhtiar ukhrawi (akhirat), sudahkah dilakukan?.

Wabah pandemi covid-19 ini telah membuat ‘kecemasan’ yang luar biasa di tengah-tengah masyarakat dunia. Sehingga kita terus disibukan dengan cara pencegahan dan penanggulangan covid-19 melalui ikhtiar duniawi. Bahkan terkadang masyarakat sering dijadikan ‘kambing hitam’, karena terus dituduh tidak disiplin di dalam menerapkan protokol kesehatan (prokes).

Meskipun ada sebagian kalangan masyarakat yang masih ragu mengenai ‘kebenaran’ pandemi covid-19 (antara percaya dan tidak percaya), tetapi persoalan kekhawatiran atas pandemi ini memang tidak bisa dipungkiri.

Sudah saatnya pemerintah yang dalam hal ini Pemkab Karawang khususnya, tidak hanya sekedar melakukan upaya ikhtiar duniawi untuk pencegahan dan penanggulangan covid-19. Melainkan mencoba upaya-upaya ikhtiar ukhrawi.

Yaitu dimana Bupati Karawang harus mulai mencoba membuat surat intruksi ataupun surat edaran kepada setiap lembaga keagamaan seperti pondok pesantren, gereja, wihara dan lain sebagainya, untuk berdoa bersama dalam upaya pencegahan dan penanggulangan covid-19 melalui ikhtiar ukhrawi.

Khususunya bagi agama islam, upaya ikhtiar ukhrawi ini bisa dilakukan dengan cara Bupati Karawang menghimbau kepada setiap para kiyai, ulama, ustadz, serta tokoh agama lainnya : mewajibkan kepada para santri dan murid untuk MEMBACA AL-QUR’AN DAN SHALAWAT setiap harinya,  dalam upaya ‘mengusir’ si corona.

Adapun persoalan di dalam membaca al-qur’an dan shalawat dapat menimbulkan kerumunan, itu adalah persoalan teknis yang sebenarnya bisa disiasati dengan cara menerapkan prokes yang ketat.

Semua pihak pasti sudah lelah menghadapi wabah pandemi yang sudah berjalan hampir dua tahun lebih ini. Persoalan anggaran pencegahan dan penanggulangan yang membengkak, hingga persoalan tenaga kesehatan (nakes) yang terus berguguran, semua langkah ikhtiar duniawi yang dilakukan seakan membuat kita lupa siapa sebenarnya yang MENCIPTAKAN corona.

“Dan Kami turunkan dari Al-qur`an suatu yang menjadi penyembuh dan rahmat bagi orang-orang yang beriman dan Al-Qur`an itu tidaklah menambah kepada orang-orang yang dzalim selain kerugian.” (Al-Isra : 82)

Al-qur’an adalah As-Syifa, penyembuh atau obat dari segala macam penyakit. Begitulah kira-kira keyakinan seorang muslim yang mendominasi masyarakat Indonesia. Persoalannya dominanasi sebagai masyarakat muslim, tetapi kita sering lupa dengan Al-qur’an. Sekali lagi, ’kecemasan’ wabah pandemi ini seakan kita lupa siapa sebenarnya yang MENCIPTAKAN corona. Sehingga upaya pencegahan dan penanggulangan covid-19 yang kita lakukan selama ini hanya terfokus sebatas ikhtiar duniawi.

Tuhan Yang Maha Esa, Allah SWT tidak akan memberikan ujian diluar kemampuan hambanya.

“Semua penyakit ada obatnya. Apabila sesuai antara obat dan penyakitnya, maka (penyakit) akan sembuh dengan izin Allah SWT.” (Hadist Riwayat Muslim).

Jadi sudah saatnya pemerintah dalam hal ini Pemkab Karawang tidak hanya terfokus melakukan upaya pencegahan dan penanggulangan covid-19 melalui ikhtiar duniawi. Melainkan harus lebih gencar lagi dilakukan upaya ikhtiar ukhrawi dengan cara mengintruksikan kepada setiap lembaga keagamaan, bahkan kepada setiap individu masyarakat untuk berdoa bersama dalam upaya mengusir si corona.

Lelah rasanya menyaksikan dampak ‘kecemasan’ covid-19 setiap harinya. Padahal Al-qur’an ada ‘obat ketenangan’ bagi setiap yang membacanya. Jika kita meyakini virus covid-19 masih merupakan MAKHLUK yang diciptakan-Nya, maka paling tidak jika sudah dilakukan, upaya ikhtiar ukhrawi ini akan menjadi i’tibar kita sebagai makhluk yang diciptakan-Nya pula.***

Penulis: Ade Kosasih, SEEditor: ADK
  • Bagikan
Exit mobile version