Agustusan Tanpa Lomba Makan Kerupuk, Mengenal Sosok Sayuti Melik

  • Bagikan

16 Agustus tahun ’45…

Besoknya hari kemerdekaan kita…

MESKIPUN dwi warna keberanian dan kesucian (merah-putih) tetap menghiasi di sepanjang pinggir jalan atau di depan rumah-rumah warga, tetapi perayaan ‘agustusan’ tahun ini tentu belum bisa semeriah perayaan hari kemerdekaan tahun-tahun sebelumnya. Lagi-lagi, si covid menjadi asbabnya.

Sepi dari keceriaan, kegembiraan dan suara tawa kemeriahan lomba panjat pinang, balap karung, tarik tambang dan lain sebagainya. Meskipun ada, itu pun tidak dilakukan oleh kelompok masyarakat secara massal. Karena pemerintah masih melarang kita untuk berkerumun di tengah pandemi.

Mungkin hanya keluarga dan sanak sodara saja yang berkumpul untuk merayakannya. Ya… Hari kemerdekaan Republik Indonesia ke-76 tahun kali ini akan jarang terlihat anak-anak yang berteriak gembira merayakan agustusan dengan lomba makan kerupuk. Sedih memang rasanya!.

Tapi apa mau dikata. Demi mendukung pemerintah untuk mengusir si covid, masyarakat harus tetap patuh protokol kesehatan (prokes) di tengah perpanjangan masa pemberlakuan pembatasan kegiatan masyarakat (PPKM) di Jawa-Bali hingga 23 Agustus 2021. Hingga akhirnya, perayaan agustusan tahun ini masih akan terlihat sepi.

Namun demikian, semoga perayaan hari kemerdekaan di tengah pandemi ini tidak pernah merubah makna dan hikmahnya. Khusunya makna semangat perjuangan kemerdekaan bagi generasi penerus bangsa yang bisa dipelajari dari biodata Sayuti Melik, sang pengetik naskah proklamasi.

Dilansir dari ANTARA, Sayuti Melik adalah pejuang kemerdekaan dari kalangan muda yang sempat terlibat ketegangan pada saat penyusunan Naskah Proklamasi yang dilaksanakan di rumah perwira tinggi Jepang yakni Laksamana Muda Maeda.

Saat-saat menjelang pengumuman Naskah Proklamasi oleh Ir Soekarno Hatta pada 17 Agustus 1945 siang, ketegangan diantara para perumus masih berlangsung hingga akhirnya usulan Sayuti Melik mengkahiri ketegangan.

Sayuti Melik, kelahiran 22 November 1908, adalah salah satu pejuang kemerdekaan dari kalangan muda yang beberapa kali ditahan pihak Belanda, Inggris, hingga Jepang.

Saat-saat menjelang pengumuman Proklamasi Kemerdekaan RI pada 1945, Sayuti Melik dan para pejuang dari kalangan muda terlibat ketegangan dengan kelompok tua seperti Soekarna, Hatta dan Ahmad Soebardjo.

Sayuti bersama pejuang muda lainnya seperti Chaerul Saleh, Sukarni, Wikana dan Shodanco Singgih adalah termasuk dalam kelompok Menteng 31, sebuah kawasan di Jakarta.

Kelompok inilah yang berperan dalam penculikan Sukarno dan Hatta pada tanggal 16 Agustus 1945. Mereka mengamankan Soekarno bersama Fatmawati dan Guntur yang baru berusia 9 bulan serta Moh. Hatta, ke Rengasdengklok Karawang.

Mereka terpaksa melakukan aksi penculikan kedua tokoh penting gerakan kemerdekaan RI tersebut karena para pemuda tidak ingin Soekarno dan Hatta terpengaruh Jepang.

Di sini, mereka kembali meyakinkan Soekarno bahwa Jepang telah menyerah dan para pejuang telah siap untuk melawan Jepang, apapun risikonya.

Di Jakarta, golongan muda, Wikana, dan golongan tua, yaitu Mr. Ahmad Soebardjo melakukan perundingan dan mereka setuju untuk memproklamasikan kemerdekaan Indonesia di Jakarta.

Mereka kemudian menjemput Soekarno dan Moh. Hatta kembali ke Jakarta. Ahmad Soebardjo berhasil meyakinkan para pemuda untuk tidak terburu-buru memproklamasikan kemerdekaan.

Kemudian mereka bertemu di rumah Perwira Muda Maeda untuk menyusun Naskah Proklamasi yang akan diumumkan pada 17 Agustus 1945.

Konsep naskah proklamasi disusun oleh Bung Karno, Bung Hatta, dan Achmad Subardjo dan dihadiri Sukarni dan Sayuti Melik.

Setelah selesai pada dini hari 17 Agustus 1945, konsep naskah proklamasi itu dibacakan di hadapan para hadirin. Namun, para pemuda menolaknya. Naskah Proklamasi itu dianggap seperti dibuat oleh Jepang.

Dalam suasana tegang itu, Sayuti memberi gagasan, yakni agar Teks Proklamasi ditandatangani Bung Karno dan Bung Hatta saja, atas nama bangsa Indonesia.

Usulnya diterima dan Bung Karno pun segera memerintahkan Sayuti untuk mengetiknya. Sayuti kemudian mengubah kalimat “Wakil-wakil bangsa Indonesia” menjadi “Atas nama bangsa Indonesia”.

So, bangun pemuda-pemudi Indonesia…
Selamat Hari Kemerdekaan Republik Indonesia ke 76 tahun…***

Penulis: Ade Kosasih, SE
  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *