Sinergitas DP3A-Kemenag dalam Cegah Pernikahan Usia Dini

  • Bagikan

KARAWANG – Tak bisa dipungkiri, jika angka pernikahan usia dini di Kabupaten Karawang masih cukup tinggi. Meskipun Dinas Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (DP3A) tidak menyebut berapa kenaikan angkanya perbulan, namun berbagai upaya pencegahan pernikahan usia dini terus dilakukan.

Salah satunya dengan cara bekerjasama atau menjalin sinergitas dengan Kementrian Agama (Kemenag) Karawang.

Kepala Kemenag Karawang, H. Dadang Ramdhani mengatakan, beberapa program yang terintegrasi dengan DP3A untuk mencegah pernikahan di usia dini sedang dan akan dijalankan. Diantaranya Diklat Capim dan Madrasah Ramah Anak.

Yaitu dimana nantinya Kemenag dan DP3A akan memiliki madrasah binaan, agar setiap lulusan siswa madrasah mendapatkan pembinaan terlebih dahulu sebelum menginjak usia pra nikah.

“Intinya Kemenag dan DP3A akan bersama-sama menjalankan beberapa program yang terintegrasi dalam rangka pencegahan pernikahan usia dini,” tutur H. Dadang Ramdani, Rabu (18/8/2021).

Kemudian, sambung Kemenag, DP3A juga akan mulai masuk ke pengajian-pengajian majlis ta’lim dalam rangka sosialisasi pemberdayaan perempuan.

Hampir sama dengan Madrasah Ramah Anak, melalui sosialisasi program ini DP3A dan Kemenag juga akan mengangkat beberapa kelompok pengajian majlis ta’lim untuk dijadikan sebagai kelompok/petugas pemulasaran jenazah perempuan.

“Nantinya, setiap ada kabar duka di satu desa (warga yang meninggal perempuan), maka kelompok pemulasaran jenzah perempuan inilah yang akan membantu keluarga duka. Intinya Kemenag akan bersinergi dengan DP3A tentang bagaimana mengelola dan memberdayakan perempuan,” terangnya.

Di kesempatan berbeda, Kepala DP3A Karawang, Ridwan Salam menjelaskan, dalam rangka pemberdayaan perempuan, pihaknya juga akan bekerjasama dengan salah satu bank untuk menjalankan program Kredit Usaha Rakyat (KUR) khusus bagi perempuan.

Pasalnya, setiap kali ditemukan kasus KDRT (Kekerasan Dalam Rumah Tangga), maka jarang ada tindaklanjut untuk membina setiap ibu rumah tangga yang menjadi korban KDRT.

“Setiap kali ditemukan kasus KDRT, kasusnya selalu kita bantu. Tapi persoalannya bagaimana setelah itu. Makanya melalui program KUR khusus perempuan ini, kita berharap bisa memberdayakan setiap warga (perempuan) yang menjadi korban KDRT,” pungkasnya.***

Penulis: Ade Kosasih, SE
  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *