Dihajar Pandemi, Semua Pendapatan Sektor Pajak di Karawang Merosot

  • Bagikan

KARAWANG – Semenjak memasuki masa pandemi covid-19, semua potensi pendapatan daerah dari semua jenis pajak di Kabupaten Karawang merosot alias turun drastis.

Menurunya pendapatan daerah ini diyakini tidak hanya terjadi di Karawang. Melainkan juga terjadi di kabupaten/kota lain di seluruh Indonesia.

Plt Kepala Bapenda Karawang, H. Asep Aang Rahmatullah mengatakan, terhitung Januari-Agustus 2021 ini, pencapaian pendapatan daerah dari semua sektor perpajakan baru mencapai 50%. Yaitu berkisar Rp 525.577.667.696,- dari target Rp 960.174.733.000,-.

Dijelaskannya, kondisi ini tentu beranjak pada suatu kesimpulan bahwa realisasi pendapatan di tahun 2021 masih jauh dari target awal. Pasalnya, semisal potensial seperti Pajak Bea Perolehan Hak Atas Tanah dan Bangunan (BPHTB) saja baru mencapai Rp 154.422.941.714,- dari target awal Rp 287.937.000.000,-.

“Faktor utama penurunan pendapatan dari semua sektor pajak ini tentu saja pandemi covid-19. Karena analoginya, seharusnya di triwulan kedua ini kita sudah 75%. Tapi ini baru mencapai 50% menginjak triwulan ketiga,” tutur H. Asep Aang Rahmatullah, Selasa (24/8/2021).

Sementara realisasi pendapatan dari sektor pajak yang mengalami penurunan drastis, yaitu Pajak Hiburan yang baru mencapai 15,77%, yaitu sekitar Rp 2.269.485.695,- dari target awal Rp 14.393.910.000,-.

Dijelaskan Asep Aang, Pajak Hiburan ini merupakan potensi pendapatan daerah yang paling merosot. Karena semenjak pandemi covid-19 dan diterapkan Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM), semua tempat hiburan di Karawang kehilangan penghasilan karena harus tutup total.

“Biasanya Pajak Hiburan ini paling besar mengambil dari beberapa sektor seperti bioskop, waterboom dan lain sebagainya. Tetapi semenjak diberlakukan PPKM, semuanya mati suri. Sehingga dampaknya Pajak Hiburan di Karawang turun drastis,” terangnya.

Hal serupa juga terjadi pada Pajak Parkir. Yaitu dimana per Agustus 2021 di triwulan kedua ini baru mencapai 28,60% atau Rp 1.344.204.266,- dari target Rp 4.700.000.000,-.

“Semenjak pandemi dan diterapkan PPKM, semua orang juga jarang bepergian atau bahkan aktivitasnya total di rumah. Kondisi inilah yang menyebabkan realisasi pendapatan dari Pajak Parkir sangat kecil,” katanya.

Begitupun dengan Pajak Hotel, sambung Asep Aang, meskipun capaianya sudah mencapai 45,70% di triwulan kedua atau sekitar Rp 52.002.354.611,- dari target Rp 113.797.940.000,-, tetapi tetap saja pada kenyataanya target pendapatan dari Pajak Hiburan ini turun drastis.

“Intinya, semenjak masa pandemi covid-19 ini, pendapatan dari semua sektor pajak turun drastis. Memasuki triwulan kedua yang baru mencapai 50%, tentu sangat berat untuk mengejar target di triwulan ketiga,” katanya.

“Tetapi saya meyakini kondisi ini bukan hanya terjadi di Karawang. Melainkan juga sedang terjadi di kabupaten/kota lain. Karena pandemi covid-19 ini berkaitan dengan penurunan aktivitas sosial-ekonomi masyarakat,” tandasnya.***

 

Penulis: Ade Kosasih, SEEditor: ADK
  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *