Hari ini Seniman 27 Kabupaten/Kota Ngumpul di Karawang, ‘Kongres Kahiji Seniman sa-Jabar’

  • Bagikan

KARAWANG – Tanggal 17-18 November 2021 akan menjadi hari bersejarah bagi para pelaku seni di Provinsi Jawa Barat. Pasalnya, para seniman di 27 kabupaten/kota di Jawa Barat akan menggelar Kongres Kahiji (Perdana) Seniman sa-Jawa Barat di Swissbelinn Hotel Karawang.

Fasilitator Kongres Seniman sa-Jabar, Nace Permana mengatakan, digelarnya kongres ini diharapkan ke depan ada solusi pemberdayaan para seniman di Jawa Barat. Harapannya dengan kongres ini ada regulasi khusus dari pemerintah yang bisa mengakomodir kepentingan para seniman.

“Harapan lain ada kebersamaan dan kekompakan antar seniman di Jabar. Sehingga kekaryaan seni-seni di Jabar bisa terlestarikan.
Bahkan kita akan mendesak melalui Pemprov Jabar untuk mengeluarkan regulasi adanya kewajiban muatan lokal di setiap sekolah nanti,” turur Nace Permana.

Menurut Nace, Jawa Barat ini merupakan gudangnya seni. Tetapi selama ini kaitan dengan pemberdayaan seni-seni kekaryaan kurang begitu mendapatkan tempat di pemerintahan.

“Maka dengan kongres ini salah satunya mengusung tema bagaimana ke depan Pemprov Jabar dan kabupaten/kota lebih peduli terhadap karya-karya seni, baik seni tradisi maupun seni modern yang ada di daerah masing-masing,” kata Nace, yang masih merupakan Ketua Lodaya.

Ditambahkan Nace, dalam kongres perdana seniman se-Jabar ini, Lodaya sendiri hanya sebagai fasilitator penyelenggara kongres. Ia berharap kongres ini dapat menampung para seniman berpikir dan berkarya lebih baik lagi. Sehingga ke depan tercipta sebuah regulasi yang bisa mengakomodir semua kepentingan seniman.

“Di kongres akan kita rumuskan Perda (Peraturan Daerah). Salah satunya kewajiban sekolah untuk menyediakan muatan lokal seni. Selain ada  pelajaran umum di sekolah, kita juga ingin ada materi kedaerahan,” terangnya.

Masih disampaikan Nace, muatan lokal setiap kabupaten/kota di Jabar berdeda-beda. Seperti di wilayah pesisir yang keseniannya bernuansa ‘kejawaan’. Sehingga ke depan diperlukan regulasi Perda di Jawa Barat yang mengaturnya.

“Muatan lokal ini harus masuk di kurikulum sekolah, bahkan sejak Sekolah Dasar (SD). Karena seharusnya kesenian diperkenalkan sejak dini. Jangan sampai kesenian dan budaya daerah ini punah oleh kemajuan zaman. Maka harus dipaksakan melalui regulasi yang dibuat (Perda, red),” terang Nace.

“Contoh Bali, meskipun wisata internaiosal, tetapi seni budaya lokalnya yang didengungkan. Bahkan menjadi nilai jual tinggi bagi turis asing,” pungkasnya.***

Penulis: Ade Kosasih, SE
  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *