PERADI Karawang Berikan Dukungan Moril untuk Valencya, “Copot Saja Jabatan Kejari”

  • Bagikan
Asep Agustian SH.MH

KARAWANG – Sejumlah dukungan moril berdatangan diberikan kepada Valencya (45), ibu dua anak yang dituntut 1 tahun penjara cuma gegara memarahi suaminya yang pulang ke rumah dalam kondisi mabuk.

Salah satu dukungan itu datang dari Perhimpunan Advokat Indonesia (PERADI) Kabupaten Karawang yang berharap, agar majelis hakim membebaskan dakwaan terhadap Valencya.

“Jika masih memiliki hati nurani, saya berharap majelis hakim membebaskan Valencya,” tutur Ketua PERADI Karawang, Asep Agustian SH.MH.

Menurur praktisi hukum ini, perkara Valencya seharusnya ditangani secara restorative justice dan mengedepankan keadilan terhadap perempuan.

Karena perkara Valencya hanya merupakan perkara soal sangkut paut rumah tangga antara istri dan suami. Jika saja perkara ini terus berlanjut sampai memberatkan Valencya, maka wajar jika publik mencurigai adanya indikasi lain dalam penanganan perkara ini.

“Berulang kali sering saya bilang bahwa hukum itu bukan alat untuk menakuti-nakuti orang. Hukum itu bukan alat memenjarakan orang. Hukum itu adalah perbuatannya,” katanya.

Ditegaskan Askun (sapaan akrab), perkara Valencya ini jelas merupakan perkara rumah tangga. Sehingga langkah restorative justice atau sebuah pendekatan yang ingin mengurangi kejahatan dengan menggelar pertemuan antara korban dan terdakwa, seharusnya lebih dikedepankan.

“Terlebih ini terdakwanya adalah seorang ibu yang harus mengurusi dua anaknya. Jika Valencya dipenjara, dimana hati nurani para penegak hukum di negeri ini,” sindir Askun.

Praktisi hukum ini juga mengungkapkan kekecewaannya terhadap Kepala Kejaksaan Negeri (Kejari) Karawang, karena dinilai tidak mampu menerapkan restorative justice dalam perkara Valencya.

Sehingga Askun meminta Kejaksaan Agung (Kejagung) RI segera mencopot jabatan Kepala Kejaksaan Negeri Karawang.

“Sebenarnya perkara Valencya ini perkara ecek-ecek yang kemudian viral. Perkaranya hanya soal sangkut paut rumah tangga antara istri dan suami. Namun dibalik itu ada apa, ada kepentingan apa?. Kenapa tidak mengedepankan retorative justice saja,” tanya Askun.

“Kejagung harus mempertanyakan peran Kejari Karawang dalam perkara Valencya. Kalau memang kejaksaan tidak bisa menerapkan retorative justice, dicopot atau pindahkan saja itu Kejari dari Karawang,” tandasnya.***

Penulis: Ade Kosasih, SE
  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *