Umar bin Khattab Tidak Menghukum Pencuri karena Kondisi Lapar

  • Bagikan

ALKISAH, suatu hari beberapa pembantu Hatib bin Abi Balta’ah ketahuan mencuri seekor unta milik seorang pria asal Muzainah. Seorang warga setempat lantas membawa para pencuri yang tertangkap basah itu kepada Khalifah Umar bin Khattab.

Sang Amirul Mukminin lantas menggelar sidang untuk mengadili perkara tersebut. Umar lantas mengetahui bahwa mereka melakukan perbuatan buruk itu karena terpaksa. Sebab, mereka sudah kelaparan dan tak tahu lagi harus berbuat apa.

Umar bahkan mengimbau Abdurrahman bin Hatib agar membayar dua kali lipat harga unta yang dimiliki orang Muzainah itu. Dengan demikian, status unta tadi menjadi halal, yakni tak lagi sebagai barang curian.

“Sebab, Hatib yang telah berbuat demikian sehingga mereka terpaksa mencuri. Mereka dalam kondisi kelaparan dan perbuatan ini dilakukannya hanya sekadar bertahan hidup,” kata Umar.

Kebijakan Umar ini bukan tanpa didasari nash. Ia justru mengambil petunjuk dari Alquran. Yakni, surah Al-Baqarah ayat 173. Artinya, “…jika dalam keadaan terpaksa bukan sengaja hendak melanggar atau mau melampaui batas maka tidaklah ia berdosa. Allah Maha Pengampun, Maha Pengasih.”

Pernah dalam masa pemerintahannya, kaum Muslimin diuji dengan wabah dan kelaparan. Gagal panen melanda sebagian provinsi, sehingga orang-orang kesulitan hanya untuk mengganjal perut lapar. Maka, Umar pun tidak menerapkan hukuman potong tangan bagi pencuri, yakni mereka yang mencuri hanya untuk bertahan hidup. Pada saat yang sama, Umar membuka Bait Al-Maal untuk menyalurkan bantuan kepada warga yang membutuhkan.

Kisah mencuri di zaman Khalifah Umar ini mungkin bisa dijadikan salah satu pelajaran berharga bagi warga Telagasari, dalam menyikapi kasus seorang bapak pencuri dua ekor bebek yang mendapat tanggapan dari Bupati Karawang Cellica Nurrachadiana, karena viral di media sosial.

‘Main hakim sendiri’ dengan cara mempermalukan si bapak pencuri dua ekor bebek ini tidak seharusnya dilakukan oleh kita sebagai warga negara yang sebenarnya memiliki adat istiadat ketimuran.

Siapapun kita, bahkan sebagai individu masyarakat yang memiliki profesi sebagai aparat penegak hukum sekalipun, kita tidak berhak menghakimi atas segala bentuk kasus tindak pidana yang terjadi di tengah masyarakat.

Negara ini adalah negara hukum. Yaitu dimana setiap bentuk kejahatan (termasuk pencurian), semuanya harus melalui proses hukum yang berlaku. Yaitu dari mulai proses penangkapan oleh pihak kepolisian, penyelidikan, penyerahan berkas kasus ke kejaksaan, hingga proses persidangan di pengadilan.

Artinya, sangat tidak dibenarkan tindakan main hakim sendiri atas kasus tindak kejahatan apapun. Karena selain memiliki asas keadilan, hukum di negeri ini juga memiliki asas kebijaksanaan.

Sehingga proses hukum-lah yang akan menentukan seseorang bersalah atau tidaknya, melalui proses persidangan di pengadilan. Bukan oleh kita sebagai individu masyarakat yang sering lupa bahwa negara ini adalah negara hukum.

Terlebih kita tidak mengetahui alasan si bapak mencuri dua ekor bebek ini untuk apa. Karena dalam situasi pandemi covid-19 yang terus mencekik kondisi perekonomian masyarakat seperti ini, diantara kita memang bisa berbuat nekad seperti melakukan tindakan pencurian. Dari pada terus menerus mengganjal perut dengan batu untuk menahan lapar.

Oleh karenanya, dalam kasus pencurian dua ekor bebek di Telagasari ini, kita harus bersepakat dengan pendapat Bupati Karawang, Cellica Nurrachadiana. Jangan sampai kita kehilangan hati nurani dan rasa kemanusiaan, lantaran hanya karena dua ekor bebek.

Postingan Facebook Bupati Cellica.

Warga Karawang yg cintai…

Terkait viralnya bapak terduga pencuri 2 ekor bebek di Telagasari, saya berharap untuk mengedepankan asas kekeluargaan. Tidak main hakim sendiri.

Tindakan pencurian apapun memang tidak dibenarkan. Tapi cara2 tidak beradab dan tanpa hati nurani tidak boleh jadi jalan keluar.

Kita tidak tau, barangkali di rumah bapak ini, ada anak atau cucunya yg sedang menahan lapar dan menunggunya pulang.

Jangan karena 2 ekor bebek, kita kehilangan hati nurani dan rasa kemanusiaan kita… (tulis Bupati Cellica dalam akun facebook @Cellica Nurrachadiana yang diposting ulang Diskominfo Karawang.

“Setuju..namun perlu dipikirkan jalan keluar untuk si bapak”, tulis netizen Tatang Koswara, dalam kolom komentar.***

Penulis: Ade Kosasih, SE
  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *