Tingkat Kesadaran Masyarakat untuk Melapor Kasus Kekerasan Perempuan-Anak Meningkat

  • Bagikan

KARAWANG – Menilik peringatan Hari Anak Nasional beberapa waktu lalu, Dinas Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (DP3A) Kabupaten Karawang mencatat, jika kesadaran masyarakat untuk melaporkan tindak kekerasan terhadap perempuan dan anak kian meningkat.

Meskipun data 2020-2021 menunjukan jika tindak kekerasan terhadap perempuan dan anak sempat meningkat, tetapi DP3A Karawang menyebut, jika ini merupakan ‘fenomena gunung es’ yang positif.

Yaitu dimana setiap tindak kekerasan terhadap perempuan dan anak yang naik ke permukaan merupakan bentuk kesadaran masyarakat untuk tidak takut melapor atas kejadian kekerasan terhadap perempuan dan anak.

“Kalau dulu masyarakat masih takut melapor jika ada kejadian tindak kekerasan terhadap perempuan dan anak. Tetapi sekarang alhamdulilah, kesadaran untuk melapor itu terus meningkat. Terbukti, banyak sekali kasus tindak kekerasan terhadap perempuan dan anak yang sebetulnya tidak perlu naik ke tingkat pidana. Melainkan bisa diselesaikan secara kekeluargaan untuk lebih memperbaikinya lagi ke depan,” tutur Kepala DP3A Karawang, Ridwan Salam, kepada Redaksi BuBe.

Dengan rasio jumlah penduduk Kabupaten Karawang yang mencapai 2,4 juta jiwa, DP3A juga menyebut jika kasus tindak kekerasan terhadap perempuan dan anak di Kota Pangkal Perjuangan juga terus menurun setiap tahunnya.

Misalnya saja pada 2021, tindak kekerasan terhadap perempuan dan anak yang ditangani DP3A mencapai 111 kasus. Yaitu dengan rincian KDRT terhadap perempuan 15 kasus, kekerasan seksual terhadap perempuan 8 kasus, kekerasan seksual terhadap anak 28 kasus, kekerasan fisik terhadap perempuan 1 kasus, kekerasan fisik terhadap anak 1 kasus.

Kemudian, kekerasan psikis terhadap perempuan 7 kasus, kekerasan psikis terhadap anak 13 kasus, Tindak Pidana Perdagangan Orang (TPP0) terhadap perempuan 2 kasus, lain-lainnya terhadap perempuan 22 kasus, serta lain-lainnya terhada anak 11 kasus.

Berbeda halnya dengan data hingga Agustus 2022, yaitu dimana tindak kekerasan terhadap perempuan dan anak menurun menjadi 97 kasus. Yaitu dengan rincian KDRT terhadap anak laki-laki 1 kasus, anak perempuan 1 kasus dan KDRT terhadap perempuan dewasa 5 kasus.

Kemudian, kekerasan fisik terhadap anak laki-laki 3 kasus, anak perempuan 4 kasus dan perempuan dewasa 3. Selanjutnya, kekerasan psikis terhadap anak perempuan 3 kasus dan terhadap perempuan dewasa 4 kasus.

Kemudian, kekerasan seksual terhadap anak laki-laki 4 kasus, terhadap anak perempuan 21 kasus dan terhadap perempuan dewasa 12 kasus. Selanjutnya, TPPO terhadap anak perempuan 1 kasus dan perempuan dewasa 1 kasus.

Tercatat juga kasus penelantaran anak laki-laki 1 kasus, anak perempuan 1 kasus dan perempuan dewasa 1 kasus. Kemudian terakhir kasus lain-lainnya terhadap anak laki-laki 1 kasus, anak perempuan 1 kasus, anak perempuan 4 kasus dan perempuan dewasa 5 kasus.

Ridwan Salam kembali menjelaskan, untuk setiap kasus tindak kekerasan terhadap perempuan dan anak yang dilaporkan ke DP3A dan ditangani Polres Karawang, otomatis DP3A akan memberikan dua pendampingan, yaitu pendampingan hukum dan psikologis.

“Bahkan terkadang kita jemput bola. Meskipun kasusnya hanya dilaporkan ke Polres Karawang dan tidak dilaporkan ke DP3A, tetapi tetap kita tawarkan apakah membutuhkan pendampingan hukum dan psikologis atau tidak. Karena selama ini komunikasi dan koordinasi kita berjalan baik dengan Polres Karawang, setiap ada penanganan kasus,” paparnya.

Masih disampaikan Ridwan Salam, untuk menangani permasalahan tindak kekerasan terhadap perempuan dan anak di Karawang saat ini, DP3A tidak lagi hanya fokus terhadap ‘penanganan kasus’. Melainkan lebih kepada ‘upaya pencegahan’. Yaitu dengan tujuan agar kasus tindak kekerasan terhadap perempuan dan anak setiap tahunnya semakin menurun, serta tumbuhnya kesadaran masyarakat untuk tidak lagi takut melapor.

Salah satu upayanya adalah telah dibentuk percontohan Satuan Tugas (Satgas) Perlindungan Anak Terpadu Berbasis Masyarakat (PATBM) di 5 desa. Yaitu di Desa Wancimekar Kecamatan Kotabaru, Desa Amandari Kecamatan Rengasdengklok, Kelurahan Tanjungpura Kecamatan Karawang Barat, Desa Margakaya Kecamatan Telukjambe Barat, serta Desa Bayur Kidul Kecamatan Cilamaya Kulon.

“Karena ini berbasis desa dan DP3A tidak mungkin menjangkau 309 desa dan kelurahan secara langsung, maka target selanjutnya kita ingin di setiap kecamatan ada Satgas PATBM. Satgas ini melibatkan Bhabinkamtibmas, tokoh agama, tokoh masyarakat, tokoh perempuan, guru sekolah hingga guru ngaji,” papar Ridwan Salam.

“Tugas mereka mensosialisasikan ke masyarakat betapa pentingnya upaya pencegahan kekerasan terhadap perempuan dan anak dan jangan takut melapor apalagi ada kejadian. Baik melalui kegiatan pengajian, di sekolah-sekolah, pondok pesantren, hingga mendatangi langsung individu masyarakat. Bahkan sekarang DP3A melakukan sosialisasi itu ke beberap rumah sakit hingga gereja,” timpalnya.

Upaya pencegahan berikutnya, sambung Ridwan Salam, DP3A juga ingin mengedukasi masyarakat tentang pencegahan kekerasan terhadap perempuan dan anak ini melalui sosialisasi pemasangan bilboard di beberapa kecamatan, pemasangan striker di kendaraan umum dan kendaraan perusahaan, hingga sosialisasi masif di media sosial.

“Sekali lagi kami jelaskan, terkadang kasus tindak kekerasan terhadap perempuan dan anak ini seperti fenomena gunung es. Artinya, semakin banyak kasus yang diketahui (dilaporkan, red), maka semakin tumbuh tingkat kesadaran dan keberanian masyarakat untuk melapor,” katanya.

“Karena dulu masyarakat masih enggan untuk melapor apabila ada kejadian (kasus). Alasannya beragam, dari mulai takut hingga masalah privasi, karena mungkin ini menyangkut nama baik keluarga,” terangnya.

“Jadi, jangan kaget apabila sewaktu-waktu data kasus kekerasan terhadap perempuan dan anak yang dilaporkan ke DP3A tiba-tiba meningkat. Karena justru dari sana-lah DP3A bisa mengukur, apakah sosialisasi upaya pencegahan yang selama ini dilakukan berhasil atau tidaknya,” pungkas Ridwan Salam.***

  • Bagikan
Exit mobile version