PBNU Perintahkan Caretaker, Kubu Kiyai Uyan Ambil Jalur Hukum

  • Bagikan

Konfercab PCNU Karawang ke-XXI di Pondok Pesantren Attarbiyyah Ciwulan Telagasari, menyisakan cerita kelam bagi sejarah NU Karawang. Hasil konfercab yang sudah mendapatkan rekomendasi dari PWNU Jawa Barat dinyatakan tidak sah dan harus diulang oleh PBNU dengan menunjuk tim caretaker.

Keputusan PBNU ini dinilai sangat ganjil dan tidak adil, karena alasan PBNU seperti yang tertuang dalam SK caretaker itu adalah telah terjadi pelanggaran AD/ART oleh panitia penyelenggara yang ditunjuk oleh PCNU demisioner, berdasarkan atas aduan pihak yang kalah pada konfercab yang sama sekali tidak berdasar dan tidak pernah dibuktikan, baik melalui tabayun maupun musyawarah.

PBNU juga menuding adanya reduksi yang dibuat oleh panitia terhadap AD/ART NU dan dianggap menghilangkan hak pengurus MWC untuk ikut dalam bursa calon ketua PCNU. Padahal semua orang tahu, bahwa tidak ada satupun bakal calon yang terganjal pada konfercab itu.

Alasan ini memang terkesan mengada-ada, hanya untuk meligitimasi terhadap terbitnya caretaker, agar PBNU dianggap sah dan legal menunjuk caretaker itu.

Keberpihakan oknum pengurus PBNU terhadap aduan pihak penggugat disinyalir adanya faktor politis, karena saya sebagai pemenang pada konfercab itu telah melakukan MoU dengan salah satu partai politik yang notabenenya berseberangan dengan ketua umum dan sekjen PBNU kepada pribadi ketua umum partai itu, yang padahal saya tidak pernah lakukan.

Ditambah lagi isu yang dihembuskan pihak penggugat bahwa saya tidak memilih Gus Yahya pada muktamar Lampung. Jadi Keputusan PBNU menerbitkan surat caretaker sangat berbau politik dan sama sekali tidak berdasar.

Hanya karena ketidaksukaan ketum dan sekjen PBNU pada partai itu, akhirnya ada satu kalimat yang cukup populer di kalangan pihak penggugat : ABU alias Asal Bukan Uyan.

Berdasarkan pertimbangan di atas, maka saya dan tim serta para pengurus MWC pendukung memutuskan untuk menolak caretaker dan konfercab ulang dan menuntut hak kami melalui jalur hukum sesuai dengan perundang-undangan yang berlaku.

Kami akan mengadukan kepada lembaga hukum resmi atas kesewenang-wenangan PBNU dalam bertindak.

Alasan lain dari penolakan ini adalah kaidah ushul fiqih yaitu “sadudz dzari’ah”, menghalangi sebuah pekerjaan yang diyakini akan mengundang maksiat dan madarat. Karena sudah menjadi rahasia umum bahwa calon yang kalah pada konfercab 21 adalah seorang pengusaha yang dengan semua kekuatan finansialnya bisa melakukan “risywah” kepada pemilik hak suara yaitu para Rois dan Ketua MWC di Karawang.

Jika konfercab diulangi lagi, berarti sama saja dengan kita membiarkan risywah itu terjadi secara brutal dan yang lebih menyedihkan lagi penerimanya adalah pengurus MWC yang rata-rata para ustad di wilayahnya.

Hal ini akan menjadi preseden buruk di masa mendatang dan sangat berbahaya untuk eksistensi jam’yyah yang sangat kami cintai ini.

Saya memang bukan orang yang terbaik di kalangan nahdliyyin di Karawang ini, saya hanyalah butiran debu yang menempel di bendera NU. Saya tidak ingin bendera NU ini dirobek dan dicabik-cabik kaum oportunis dan pragmatis.

Maka demi kecintaan saya kepada jam’iyyah ini, seraya memohon kepada Allah ta’ala dengan karomah dari para pendirinya, saya berijtihad untuk mencari keadilan melalui jalur hukum.

NU memang pasti benar. Tetapi pengurusnya bisa benar bisa salah, maka wajar jika dikritik dan diingatkan.
Semoga langkah saya dan tim serta MWC pendukung mendapatkan ridho dari Pemilik alam semesta yang maha adil dan maha bijak, Allah SWT.

Penulis :

Alfaqir ila rahmati Robbih
Ahmad Ruhyat Hasby (Kang uyan)
Penjaga Muruah Jam’iyyah

  • Bagikan
Exit mobile version